Jarak Idealisme Kurikulum dan Realitas
Pendidikan adalah harapan.
Rencana penerapan Kurikulum 2013 mekar dengan harapan itu. Indonesia
ditargetkan mampu menjawab tantangan masa depan peradaban yang berbasis
pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Alih-alih menebar harapan yang
sama, penerapan Kurikulum 2013 menuai polemik.Di atas kertas, muatan idealisme Kurikulum 2013 berjarak dengan realitas praktik pendidikan di daerah.
Kurikulum 2013 bertitik tolak dari
gagasan untuk merebut peluang bonus demografi dalam tiga dekade
mendatang. Tujuan kurikulum ini adalah mencetak generasi 2045 yang
berakhlak mulia, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab. Dengan
pendekatan tematik integratif, kurikulum ini mengembangkan kompetensi
inti sebagai integrator horizontal yang mengikat keseluruhan mata
pelajaran dan jenjang pendidikan sebagai kesatuan.
Dalam praktiknya di tingkat SD-SMP,
kurikulum ini meleburkan materi sejumlah mata pelajaran ke dalam mata
pelajaran lain. Jumlah mata pelajaran pun berkurang sehingga struktur
kurikulum terkesan padat dan ringkas.
Sebagai strategi pendidikan, Kurikulum
2013 diposisikan sebagai simpul kritis dalam proses konsolidasi
demokrasi. Dalam salah satu artikelnya, Wakil Presiden Boediono
memaparkan bahwa pendidikan merupakan kunci pembangunan penentu kemajuan
bangsa (Kompas, 27/8/2012). Rumusan kurikulum baru ini memang
terinspirasi dari pengalaman Amerika Serikat yang menempatkan institusi
pendidikan sebagai pilar utama demokrasi.
Secara substantif, gagasan ini
menempatkan anak didik dalam dua sisi peran, yakni sebagai warga negara
penopang sistem demokrasi sekaligus sumber daya manusia pemutar sistem
ekonomi. Pendidikan umum membekali anak didik dengan sikap dan
keterampilan dasar (soft skills) untuk berkarya menjadi warga negara
negara yang baik. Sementara itu, pendidikan khusus memberikan kemampuan
siap kerja (hard skills) di bidang-bidang tertentu.
Pemerintah juga mempersiapkan strategi
demi kesesuaian antara kurikulum baru ini dengan latar belakang guru
yang beragam. Terdapat tiga unsur pendukung pelaksanaan, yakni
ketersediaan buku sebagai panduan bahan ajar dan sumber belajar,
penguatan peran pemerintah daerah dalam pembinaan dan pengawasan, dan
penguatan manajemen budaya sekolah.
Saat ini, tengah dibentuk tim utama yang
terdiri dari guru-guru inti sebagai ujung tombak pelaksanaan kurikulum
baru di lapangan.
Berjarak dengan realitas
Namun, tampaknya jurus di atas masih
kuat di atas kertas. Relevansi kebijakan pendidikan nasional di satu
sisi dengan kondisi infrastruktur pendidikan di sisi lain menjadi tema
sentral dalam Survei Kompas mengenai Guru dan Kualitas Pendidikan
Nasional 2013. Survei ini menjaring opini 512 guru dari SD dan SMP
negeri dan swasta di delapan ibu kota provinsi.
Hasilnya, secara garis besar kebijakan
pemerintah di bidang pendidikan merupakan hal yang relatif ketika
dihadapkan pada kemampuan guru di daerah.
Sejumlah kebijakan, seperti penyediaan
sarana dan prasarana sekolah, perubahan kurikulum dari masa ke masa,
sertifikasi guru, dan standardisasi ujian nasional, merupakan kebijakan
makro yang manfaatnya berjarak dengan praktik pendidikan dalam
keseharian guru dan murid. Sertifikasi guru, misalnya, tidak menyentuh
langsung aspek kemampuan dan karakter individual guru. Sebagian besar
guru dinilai masih bertipe mediocre yang cenderung memiliki keterbatasan
dalam pengayaan materi dan metode pengajaran. Peran guru pun sebatas
pelaksana kurikulum, bagian dari birokrasi pendidikan.
Kondisi ini menyebabkan Kurikulum 2013
menjadi problematik dalam pelaksanaannya mengingat kurikulum ini
mensyaratkan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) yang
memadai. Apalagi, guru memperlihatkan orientasi nilai yang kompleks,
dengan kontinum pemahaman beragam, yakni konservatif dalam nilai
keagamaan di satu sisi, namun liberal dalam pemahaman pendidikan.
Menjelang dua bulan pelaksanaan,
sosialisasi Kurikulum 2013 masih kedodoran di lapangan. Survei
memperlihatkan sosialisasi masih sangat minim di sejumlah wilayah.
Sosialisasi baru sebatas formalitas pada SD-SMP favorit papan atas di
wilayah perkotaan. Itu pun tidak mampu menjamin pemahaman yang optimal
terhadap Kurikulum 2013.
Padahal, perubahan kurikulum ini
membutuhkan perubahan paradigma berpikir guru terkait pendekatan dan
teknik pengajaran, terutama pada mata pelajaran yang terintegrasi,
seperti IPA, IPS, dan Bahasa. Selain itu, perubahan struktur kurikulum
juga memunculkan sejumlah persoalan teknis seperti jam mengajar per
minggu guru sertifikasi yang tidak terpenuhi dan kelebihan tenaga guru
akibat sejumlah mata pelajaran dihilangkan.
Idealnya, Kurikulum 2013 diikuti dengan
pelatihan guru agar idealisme baru dapat tertangkap lebih utuh dan
dilaksanakan optimal. Kemampuan pengajaran para guru saat ini masih
merupakan hasil dari pendidikan tinggi keguruan yang mengacu pada
kurikulum lama, yakni guru di tingkat SD dididik untuk menguasai
berbagai bidang yang diajarkan di tingkat SD. Sementara itu, guru SMP
diarahkan untuk memiliki kebidangan.
Kebingungan teknis semacam itu
mencerminkan bahwa perubahan kurikulum perlu dilakukan secara bertahap.
Kontroversi yang berkembang seputar Kurikulum 2013 selama ini tidak
terlepas dari perbedaan pandangan antara pemerintah sebagai penentu
kebijakan di tingkat pusat dan kesiapan guru sebagai pelaksana di daerah
yang memiliki kemampuan berbeda-beda.
Bingkai demokratisasi
Saat ini, pemerintah telah menurunkan
target implementasi Kurikulum 2013. Pada tingkat SD dari 30 persen
menjadi 5 persen, jenjang SMP dari 20 persen menjadi 7 persen. Kurikulum
baru diterapkan di kelas I dan IV di tingkat SD dan kelas VII di
jenjang SMP. Adapun di tingkat SMA/SMK tetap 100 persen di kelas X,
artinya diterapkan di 11.572 SMA dan 10.685 SMK di seluruh Indonesia.
Berkaca dari pengalaman sebelumnya,
penetapan Kurikulum 2013 adalah perubahan kurikulum yang ketiga kali
sejak masa reformasi 1998. Secara substansial, belum terlihat visi yang
hendak dicapai terkait dengan bingkai demokratisasi. Sekolah masih
bergulat mempersoalkan teknis standardisasi dan evaluasi hasil
pendidikan. Persoalan inilah yang harus dijernihkan dulu supaya
Kurikulum 2013 itu tidak sekadar menjadi macan kertas.
pendidikan sngt diprlukan
AntwoordVee uitLANJUTKAN
AntwoordVee uitbagussss,,,,
AntwoordVee uitcome backk